Jumat, 08 Juli 2016

Sutan Takdir Alisyahbana

A.    Latar Belakang Sutan Takdir Alisyahbana
           Sutan Takdir Alisyahbana dilahirkan di Natal, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 11 Februari 1908, dan meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994 dalam usia 86 tahun. Dinamai Takdir karena jari tanganna hanya ada 4. Ibunya seorang Minangkabau yang telah turun temurun menetap di Natal, Sumatera Utara sementara ayahnya, Raden Alisyahbana gelar Sutan Arbi, ialah seorang guru. Kakeknya, Sutan Mohamad Zahab, dikenal sebagai seseorang yang dianggap memiliki pengetahuan agama dan hukum yang luas.
            Mula-mula STA sekolah di HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Bengkulu (1915-1921) kemudian melanjutkan sekolahnya di Kweekschool, Bukit Tinggi, Lahat, Muara Enim (1921-1925) dan Hogere Kweekschool, Bandung ( 1925-1928) serta Hoofdacte Cursus di Jakarta (1931-1933), yang merupakan sumber kualifikasi tertinggi bagi guru di Hindia Belanda pada saat itu. Kemudian di Rechtschogeschool, Jakarta. Pada tahun 1942 Sutan Takdir Alisyahbana mendapat gelar Meester in de rechten (Sarjana Hukum). Sutan Takdir juga mengikuti kuliah-kuliah tentang ilmu bahasa umum, kebudayaan Asia, dan filsafat. Ia menerima gelar Dr. Honoris Causa dari UI (1979) dan Universiti Sains, Penang, Malaysia (1987).
            Sutan Takdir pernah menjadi redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka (1930-1933), kemudian mendirikan dan memimpin majalah Pujangga Baru (1933-1942 dan 1948-1953), Pembina Bahasa Indonesia (1947-1952), dan Konfrontasi (1954-1962). Pernah menjadi guru HKS di Palembang (1928-1929), dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Kebudayaan di UI (1946-1948), guru besar Bahasa Indonesia, Filsafat Kesusastraan dan Kebudayaan di Universitas Nasional, Jakarta (1950-1958), guru besar Tata Bahasa Indonesia di Universitas Andalas, Padang (1956-1958), dan guru besar & Ketua Departemen Studi Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1963-1968).
            Sebagai anggota Partai Sosialis Indonesia, Sutan Takdir menjadi anggota parlemen (1945-1949), anggota Komite Nasional Indonesia, dan anggota Konstituante (1950-1960). Selain itu, ia menjadi anggota Societe de linguitique de Paris (sejak 1951), anggota Commite of Directors of the International Federation of Philosophical Sociaties (1954-1959), anggota Board of Directors of the Study Mankind, AS (sejak 1968), anggota World Futures Studies Federation, Roma (sejak 1974), dan anggota kehormatan Koninklijk Institute voor Taal, Land en Volkenkunde, Belanda (sejak 1976). Dia juga pernah menjadi Rektor Universitas Nasional, Jakarta, Ketua Akademi Jakarta (1970-1994), dan pemimpin umum majalah Ilmu dan Budaya (1979-1994), dan Direktur Balai Seni Toyabungkah, Bali (-1994).
            Sutan Takdir merupakan tokoh terkemuka dalam sejarah kesusastraan dan pemikiran kebudayaan di Indonesia. Dia banyak menulis puisi, novel, esai-esai sastra, bahasa serta tulisan ilmiah mengenai filsafat, ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Dia juga menaruh minat pada sejarah intelektual Islam, khususnya pemikiran Ibn Rusyd dan menjelang akhir hayatnya kepada Muhammad Iqbal.
            Kiprahnya di dunia sastra dimulai dengan tulisannya Tak Putus Dirundung Malang (1929). Disusul dengan karyanya yang lain, yaitu Diam Tak Kunjung padam (1932), Layar Terkembang 1936, Anak Perawan di Sarang Penyamun (1941l), Grotta Azzura (1970), Tebaran Mega, Kalah dan Menang (1978), Puisi Lama (1941), dan puisi Baru (1946).
            Dalam novel Layar Terkembang yang sudah beberapa kali di cetak ulang STA merenuangkan gagasannya dalam memajukan masyarakat, terutama gagasan memajukan peranan kaum wanita melalui tokoh Tuti sebagai wanita Indonesia yang berpikiran maju yang aktif dalam pergerakan wanita.

B.     Karya – Karya Sutan Takdir Alisyahbana.
            Adapun karya-karya Sutan Takdir Alisjabana sangatlah banyak, sejak tahun 1929 sampai tahun 1994 ia sebelum ia meninggal lebih dari 40 buku hasil karyanya yang sudah diterbitkan, mulai karangannya yang berbentuk novel, sajak, roman, kebudayaan, filsafat dan lain-lain. Agar memudahkan penulis sehingga nantinya dapat mengenali dalam memilah antara karyanya yang berupa satra, puisi, pendidikan dan lain-lain, penulis berusaha seoptimal mungkin memaparkan hasil karya-karya Sutan Takdir dengan mengelompokkan karyanya ke dalam bagian sastra, bahasa, puisi, seni, filsafat dan pendidikan, berikut di bawah ini adalah karya karyanya:  
SASTRA
A.       FIKSI
1.      1929- Tak Putus Dirundung Malang Jakarta: Dian Rakyat (novel)
2.      1932- Dian Tak Kunjung Padam, Jakarta: Dian Rakyat (novel)
3.      1936- Layar Terkembang, Jakarta: Balai Pustaka (novel)
4.      1940- Anak Perawan di Sarang Penyamun, Jakarta: Dian Rakyat (novel)
5.      1970 & 1971- Grotta Azzura, Jakarta: Dian Rakyat (novel tiga jilid)
6.      1978- Kalah dan Menang, Jakarta: Dian Rakyat, (novel)  Anak Yang Bodoh, Jakarta: Pustaka Rakyat

B.       NON FIKSI
7.      1941- Puisi Lama (kumpulan dan komentar tentang puisi Indonesia Kelasik, bunga rampai,),  Jakarta: Dian Rakyat
8.      1946- Puisi Baru (kumpulan dan komentar tentang puisi Indonesia Moderen, bunga rampai), Jakarta: Dian Rakyat.
9.      1939- Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (kumpulan karangan tentang puisi), Jakarta: Dian Rakyat.
10.  1977- Perjuangan Tanggungjawab dalam Kesusasteraan Indonesia (kumpulan karangan tentang Kesusasteraan), Jakarta: Pustaka Jaya. 1978- Amir Hamzah sebagai Penyair dan Uraian sajak Nyanyi Sunyi, Jakarta: Dian Rakyat. 
SENI
11.  1980- Perempuan di Persimpangan Zaman, Jakarta: Dian Rakyat.
12.  1982- Menuju Seni Lukis Lebih Berisi dan Bertanggung Jawab.
13.  1983- Kebangkitan: Suatu Drama Mitos Tentang Bangkitnya Dunia Baru, Jakarta: Dian Rakyat,.
14.  1985- Seni dan Sastra: Ditengah – tengah pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan, Jakarta: Dian Rakyat.
BAHASA
Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936)
15.  1945- Kamus Istilah I dan II, Jakarta: Pustaka Rakyat.
16.  1949- Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia I dan II, Jakarta: Pustaka
RAKYAT.
17.  1956- Sejarah Bahasa Indonesia, Jakarta: Pustaka Rakyat.
18.  1957- Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (kumpulan karangan tentang Bahasa Indonesia), Jakarta: Dian Rakyat.
19.  1962- The Indonesian language and literature
20.  1964- The Failure of Modern Linguistics in the Face of Linguistics Problems of the twentieth Century, Kuala Lumpur, University of
MALAYA.
21.  1967- The Modernization of Language in Asia Kuala Lumpur: Malaysian Society of ASEAN Studies.
22.  1976- Language Planning for Modernization: the Case of Indonesian and Malaysian New York: Mouton
23.  1977- Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Moderen (kumpulan karangan tentang Bahasa Indonesia dari tahun 1957-1978), Jakarta: Dian Rakyat.
KUMPULAN PUISI 
24.  1935- Tebaran Mega (kumpulan sajak), Jakarta: Pustaka Rakyat.
25.  1978- Lagu Pemacu Ombak, Jakarta: Dian Rakyat, .
26.  1980- Perempuan di Persimpangan Zaman (ditarikan di Balai Seni Toyabungkah, 1980), Jakarta: Dian Rakyat.
27.  1987- Sajak-sajak dan Renungan, Jakarta: Dian Rakyat.
28.  1983- Kebangkitan: Suatu drama Mitos Tentang Bangkitnya Dunia Baru, Jakarta: Dian Rakyat.
KEBUDAYAAN
29.  1950- Soal kebudayaan Indonesia di tangah – tengah Dunia, Jakarta: Pustaka Rakyat
30.  1957- Perjuangan Automoni dan Kedudukan Adat didalamnya, Jakarta: Pustaka Rakyat.
31.  1961- Indonesian: Social and Cultural Revolution, Kuala Lumpur: Oxford University Press,  1988.
32.  1965- The cultural Forces in Asia and International Understanding (Co-editorship with Prof. Eliezer), Kuala Lumpur: University Press.
33.  1967- The Cultural Problems of Malaysia in the context of Southeast Asia (Co-editorship with Prof. Taniagayam And Wang Gungwu), Kuala Lumpur: The Malaysia Society of Orientalist.
34.  1975- Perkembangan Sejarah Kebudayaan di lihat dari Jurusan Nilai – nilai, Jakarta: Idaya.
35.  1983- Socio-cultural Creativity: In the Converging and Restructuring Process of the New Emerging World, Jakarta:Dian Rakyat.
36.  1987- BUMANTARA: T he Integretion of Southeast-Asia and Its Perspectives in the Future, Jakarta: Dian Rakyat.
37.  1989- The Concept of Culture and Civilization: Problems of National Identity and the Emerging World in Anthropology and Sociology, Jakarta: Dian Rakyat.
PENDIDIKAN
38.  1954- Museum Sebagai alat Pendidikan Zaman Baru, Jakarta: Pustaka Rakyat. 
39.  1983- Kreativitas (sebagai contoh), Jakarta: Dian Rakyat.
FILSAFAT
40.  1945- Pembimbing ke Filsafat, Jakarta: Pustaka Rakyat & Dian Rakyat
41.  1956- Kerisis Akhlak Pemuda Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
42.  1966- Essay of a New Anthropology: Values as Integrating.
43.  1982- Kelakuan Manusia Ditengah – tengah Alam Semesta,  Jakarta: Dian Rakyat
44.  1983- Dasar – dasar Kerisis Alam Semesta dan Tanggung Jawab Kita (kumpulan 13 makalah symposium “Dasar - dasar Kerisis Semesta dan Tanggung Jawab Kita,  Universitas Nasional Jakarta, Jakarta: Dian Rakyat.
45.  1986- Forces in Personality, Society and Culture, Kuala Lumpur: University of Malaya, edisi ke 3, 1986. Diterjemahkan: Antropology Baru: Nilai – nilai Sebagai Tenaga Integrasi dalam Pribadi, Masyarakat dan Kebudayaan, Jakarta: Dian Rakyat, cetakan I, 1988

C.    Kelebihan dan Kekurangan Sutan Takdir Alisyahbana
Kelebihan Sutan Takdir Alisyahbana
1.             Sutan Takdir alisyahbana telah membuat lebih dari 40 hasil karyanya sendiri.
2.             Sutan Takdir Alisyahbana seorang satrawan yang sangat peduli terhadap perkembangan di indonesia dan besarnyaa pengaruh beliau dalam dunia sastra
3.             Sutan Takdir Alisyahbana selain  terkenal dengan buah tangannya sebagai pengarang roman yang indah dan hidup bahasanya, terkenal pula sebagai penulis  essei , Prosa, novel dll
Kekurangan Sutan Takdir Alisyahbana
1.             Ia hanya mamehami manusia dengan pendekatan antropologis-sosiologis, yang hanya menekankan manusia sebagai makhluk berbudaya yang memiliki tanggungjawab sosial.
2.             Sutan Takdir kurang memberi perhatian kepada manusia dari aspek proses kejadiannya, yang menuntut tanggungjawab manusia sebagai Abid dan Khalifah.
3.             Sutan Takdir juga tidak melihat manusia berdasarkan potensi psikologis yang dimiliki, antara lain hati, nafsu, akal dan ruh, yang juga sangat penting untuk dipahami, terutama dikaitkan dengan aktifitas dan kecenderungan manusia dalam kehidupannya di dunia

D.   Kesimpulan
Tidak banyak yang dapat disimpulkan oleh peneliti tentang konsep kebudayaan Indonesia yang dijelaskan Sutan Takdir Alisjahbana. Sebuah pemikiran yang sangat brilian yang pernah diperdebatkan pada tahun 1930, yang lebih dikenal dengan polemik kebudayaan. Dapat disimpulkan bahwa kebudayaan Indonesia menurut Sutan Takdir adalah kebudayaan dinamis dan progesif, bukan kebudayaan yang dikuasai oleh pengaruh-pengaruh agama dan mistik, juga bukan kebudayaan yang feodal. KebudayaanIndonesia adalah kebudayaan yang pernah terjadi pada kebudayaan Barat, yaitu sebuah kebangkitan budaya dari belenggu mitos dan agama. Ruh dan semangatnya harus ditumbuhkan pada bangsa Indonesia demi kemajuan bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Dalam hal ini Sutan Takdir mempunyai pandangan bahwa bangsa Indonesia harus memiliki kebudayaan yang masyarakatnya mempunyai perhatian terhadap pentingnya intelektualisme, individualisme dan materialisme. Begitu juga, adanya semangat nasionalisme kebudayaan Indonesia harus ditumbuhkan pada diri bangsa Indonesia, yaitu sebuah kebudayaan yang tidak hanya bersemangat dan memprioritaskan kepada budaya daerahnya masing-masing, melainkan mereka hanya memprioritaskan demi kepentingan kebudayaan Nasional Indonesia.
Bahwa setiap kebudayaan nasional bertumpu pada nilai-nilai budaya yang masih hidup dan dihayati oleh masyarakatkiranya tidak seorang pun menyangkalnya. Namun gagasan pokok yang harus diutarakan ialah bahwa untuk menyusun suatu kebijaksanaan kebudayaan nasional tidaklah cukup dengan melandaskan dari bentuk-bentuk kebudayaan yang ada, melainkan harus dilengkapi dan dibuahi oleh pemikiran-pemikiran yang ditarik dari hakekat kebudayaan. Sebab suatu kebudayaan naisonal dimaksudkan sebagai suatu visi masa depan, suatu pandangan mengenai bagaimana suatu bangsa dapat menyongsong dan mammpu menghadapi tantangan serta masalah hidup dengan baik. Sutan Takdir menempatkan titik tolak pemikiran kebudayaannya pada budi manusia, ini mengidintifkasi bahwa Sutan Takdir adalah seorang subyektivis. Sedangkan mekanisme subyektivisme yang serta meninggalkan logika forma dalam metoda, merupakan bagian dari ciri filsafat modern. Karena itu Sutan Takdir langsung masuk ke dalam golongan penganut filsafat modern. Ini kebalikan dari ciri-ciri filsafat Skolastik (filsafat abad pertengahan), yaitu pluralisme, Sutan Takdir juga menerima adanya intuisi yang mentrasedenkan realitas persepsi inderawi, tetapi kemampuan itu berada diluar jangkauan nilai teori. Selain itu, kecenderungan pemikiran Sutan Takdir yang dituangkan dalam konsep kebudayaan Indonesia dapat dimasukkan ke dalam kutub rasionalisme Enlightementatau fundamentalisme rasionalis. Kutub pemikiran seperti ini pastilah berhadapan dengan dua kutub lain yang menjadi pesaing atau pecundang sengitnya, yaitu fundamentalisme keagamaan dan posmodernisme yang bisa disebut juga
Sebagai fundamentalis relativis. Yang membuat pemikiran Sutan Takdir berbeda dengan pemikiran madzab rasionalis yang lain ialah semangatnya. Semangat yang melatari pemikiran Sutan Takdir adalah semangat idealisme romantik yang berakar dalam gerakan Sturm und Drang di Jerman awal abad ke-19 M dengan tokoh-tokohnya yang terkenal seperti Schiller, Goethe, Schelling, dan lain-lain. Di belakangnya lagi adalah idealisme Hegel dan pemikiran Neo-Kantianism.

Mimpiku



MIMPIKU

  Perkenalkan namaku Rizky Nugraha Putra. Panggilan ku sebenarnya ada banyak tetapi teman – temanku lebih sering memanggilku dengan panggilan Iky atau Nugraha. Ya memang terdengar aneh. Tapi aku tak mempedulikannya. Bagiku ialah sebuah  nama takkan tampak elok, kecuali dengan kepribadiannya yang elok pula. Menurut hasil riset, dengan menanyai beberapa temanku, mereka bilang aku ini pendiam, terkadang pecicilan dan kadang terlihat konyol. Tapi aku suka menghabiskan waktuku dengan mendengarkan musik, berselancar di Internet dan menggambar.
            Semua  ini bermula di saat aku sedang asyik berselancar di internet, aku melihat sebuah rangkaian kata – kata yang saat ku baca memeiliki makna yang sangat menginspirasiku ku. Ya. Rangkaian kata – kata itu adalah dari sang Motivator “ Mario Teguh  “, beliau berkata:
Cita – Citaku Tinggi
Aku ingin menjadi yang terbaik dalam melakukan apa yang kulakukan.
Aku tak harus mengalahkan siapa pun, karena yang harus kukalahkan hari ini dan setiap hari adalah kualitas hidupku yang kemarin.
Tak peduli apa komentar orang lain.
Aku menjaga cita – citaku tinggi.
Ini hidupku, ini pilihanku.
#Mario Teguh
             Dari Kata – kata tersebut lah yang menginspirasiku sampai sekarang ini, aku terus bersemangat setiap kali ku membaca kata – kata tersebut.
            Seolah – olah aku memiliki ambisi yang besar dan memiliki jiwa yang kuat untuk menggapai mimpi. Apa? Mimpi? Ya tentu saja,  pasti semua orang memiliki mimpi, dari mimpi yang belum tercapai maupun mimpi yang sudah tercapai. Namun, pernahkah kalian mengalami kegagalan dalam menggapai mimpi kalian? Pastinya pernah bukan? Nah begitupun denganku, tidak hanya satu dua kali saja aku mengalami kegagalan dalam menggapai mimpiku, bahkan berkali – kali dan terkadang dalam benakku aku merasa lelah dalam mengejar mimpiku.
            Saat pertama kali ku mendengar cita – cita adalah ketika aku masih TK, yaitu ketika Bu Guru bertanya kepada muridnya satu persatu “ Apa cita – cita kalian kalau sudah besar anak – anak ?, dengan seketika waktu itu aku langsung tegas menjawab “Aku ingin menjadi polisi Bu Guru”. Entah mengapa dulu aku ingin sekali menjadi polisi karena setiap saat aku melihat polisi itu sepertinya menjadi polisi itu keren, gagah, bisa membrantas para pelaku penjahat dan bisa mengatur rambu lalu lintas. Dan cita – cita ku ingin menjadi polisi pun berlanjut hingga ke jenjang SD. Waktu terasa begitu cepat tak terasa aku sudah berada di Jenjang yang lebih tinggi yaitu SMP. Ketika SMP aku lebih suka menggambar karena aku sangat suka seni hingga suatu hari aku berkeinginan untuk menjadi seniman atau arsitektur. Dan ketika waktu kelulusan SMP aku berkeinginan sekali untuk melanjutkan ke jenjang SMK dengan jurusan animasi, akan tetapi kenyataan tak seperti apa yang kita harapkan, banyak pertimbangan dari orang tua dan alasan – alasan tertentu yang mengakibatkan aku untuk tidak melanjutkan sekolah ku ke jenjang SMK Jurusan Animasi. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan study ku ke jenjang selanjutnya yaitu SMA.
            Hari demi hari ku lewati saat ketika aku berada di SMA ,ketika aku SMA aku sangat suka dengan komputer. Ya, waktu SMA memang hari – hari ku berada di depan komputer, sudah seperti teman sendiri komputer itu bagiku karena tugas – tugas yang memang harus menggunakan komputer ketika waktu aku SMA. Hingga saat kenaikan kelas 2 SMA  terdapat pemilihan jurusan antara IPA dan IPS. Tanpa berfikir panjang aku memutuskan untuk mengambil jurusan IPA berhubung nilai rapot ku cukup bagus dalam bidang IPA ketika aku masih duduk di kelas 1 SMA dan aku sudah ada niat dan mimpi untuk mengambil Teknik Informatika Ketika aku melanjutkan ke Jenjang Prguruan Tinggi. Selama 2 tahun sampai kelas 3 SMA aku lewati hari – hari ku menjadi anak IPA, hingga tak terasa Ujian Nasional ( UN ) pun sudah di depan mata. Aku mulai bersemangat untuk menghadapinya, pemikiranku untuk lanjut ke perguruan tinggi pun semakin bulat. Setelah pengumuman tiba aku pun cukup senang karena nilai UN ku tidaklah buruk  dan sangat memuaskan diatas rata – rata Nilai Standar kelulusan yang diberikan oleh pemerintah.
            Tapi entah kenapa kegalauan tentang mimpiku pun belum berakhir, ternyata aku tidak lolos dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri (SNMPTN), ya, memang ketika aku mendaftar SNMPTN aku memilih PTN yang bisa dibilang peminatnya cukup banyak dan termasuk untuk lolos itu kemungkinannya sangat kecil, yaitu UNPAD dengan jurusan Teknik Informatika ,Teknik Geologi sedangkan di IPB aku mengambil jurusan Ilmu Komunikasi. Aku berusaha untuk tetap semangat untuk dapat masuk ke Perguruan Tinggi Negri (PTN) pada waktu itu dengan mengikuti berbagai ujian seperti SBMPTN dengan mengambil PTN ITB dengan jurusan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (SETI) dan Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) dengan jurusan Teknik Informatika dan Management, SIMAK UI, Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD), Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN) dan juga Politeknik Negri Bandung (POLBAN), namun keberuntungan tidak berpihak kepadaku, aku tidak sama sekali lolos dalam berbagai Ujian yang aku ikuti waktu itu. Aku pun mulai gelisah dan frustasi pada waktu itu karena aku belum sama sekali masuk ke Perguruan Tinggi Negeri satu pun.
            Waktu pun mulai berlalu, aku pun  melupakan semua itu. Hingga akhirnya aku mencoba mendaftar untuk masuk di salah satu Perguruan Tinggi yang berada di daerah depok, Jawa Barat. Dan alhamdulillah aku di terima di Perguruan Tinggi tersebut di jurusan Teknik Informatika. Sebelumnya aku tidak pernah pernah berfikir bahwa aku masuk ke Perguruan tinggi tersebut dan walaupun Perguruan Tinggi tersebut tidak Negri tetapi Jurusan yang diterima pun yang aku minati. Tapi inilah hidup, terkadang apa yang kita pikirkan tidaklah sama dengan kenyataannya. Belum tentu apa yang kita pilih adalah yang terbaik untuk kita.
            Inilah skenario kehidupan ku. Tinggal memilih ingin menjadi penonton atau pemeran utamanya. Belajarlah dari mereka jangan takut bermimpi. Lebih baik gagal tapi mempunyai mimpi dari pada gagal tapi tidak pernah mempunyai mimpi sama sekali. Mulai saat ini aku akan belajar, fokus dan melakukan semuanya dengan bersemangat dan dengan baik untuk apa yang aku pilih sekarang ini. Mimpiku belum berakhir, aku masih mempunyai mimpi bisa melanjutkan pendidikan keluar negeri. Aku akan mengejar mimpi-mimpiku yang semu, aku tidak akan membiarkan hanya sekedar isapan jempol belaka.