NAMA : RIZKY NUGRAHA PUTRA
NPM : 56415191
KELAS : 1IA09
NPM : 56415191
KELAS : 1IA09
BAB I
PENDAHULUAN
A. Dasar Pemikiran
1. Latar Belakang Paedagogis
1. Latar Belakang Paedagogis
Inovasi pembelajaran dirasa perlu karena mahasiswa
bukanlah mahluk kosong yang tidak memiliki kemampuan dan kecakapan apapun, akan
tetapi sebagai objek berpotensi yang mampu mengkreasi dunia lingkungannya.
Sehingga dengan memberikan posisi yang seimbang antara aktifitas dosen dan
mahasiswa dalam proses pembelajaran akan mampu memberikan hasil lebih, baik
tambahan ilmu pengetahuan, meningkatnya sikap positif, dan bertambahnya
keterampilan pada mahasiswa.
Terdapat empat pilar pembelajaran menurut UNESCO yaitu
:
- Learning to know, pembelajaran untuk tahu
- Learning to do, pembelajaran untuk berbuat
- Learning to be, pembelajaran untuk membangun jati diri
- Learning to live together, pembelajaran untuk hidup bersama secara harmonis
2. Dasar Yuridis
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional Pasal 40 Ayat 1 butir e, dikemukakan bahwa: “Pendidik dan
tenaga kependidikan berhak memperoleh kesempatan menggunakan sarana, prasarana,
dan fasilitas pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas”. Dengan
pembelajaran seperti ini diharapkan semua perguruan tinggi di Indonesia mampu
mempersiapkan mahasiswa sebagai anggota masyarakat yang mampu dan termotivasi
untuk berpartisipasi secara aktif dalam mengaktualisasikan serta melembagakan
masyarakat madani. Yang akhirnya pendidikan tinggi diharapkan mampu
menghasilkan mahasiwa yang unggul secara intelektual, anggun secara moral,
kompeten menguasai IPTEK, serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai peran
sosial (Hamdan Mansoer, 2001, hIm. 3).
B. Visi, Misi, Tujuan
Visi ISBD
Berkembanganya mahasiswa sebagai manusia
terpelajar yang kritis, peka dan arif dalam memahami keragaman dan
kesederajatan manusia baik selaku individu maupun sosial yang dilandasi oleh
nilai-nilai estetika, etika dan moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Misi ISBD
Dalam buku Ilmu sosial
Budaya Dasar, Dituliskan bahwa misi
ISBD adalah sebagai berikut : “Memberikan landasan dan wawasan yang luas serta
menumbuhkan sikap kritis , peka, dan arif pada mahasiswa untuk memahami
keragaman, kesederajatan, dan kemartabatan manusia dalam kehidupan bermasyarakat
serta bertanggung jawab terhadap sumber daya dan lingkungannya”
Tujuan ISBD
- Mengantarkan manusia terutama memberikan kesadaran serta mengembangkan kemamapuan mahasiswa sebagai generasi penerus perjuangan bangasa untuk menguasai pengetahuan tentang keragaman, kesederajatan dan kemartabatan manusia selaku individu dan makhluk sosial dalam berkehidupan bermasyarakat.
- Memeberikan landasan pengetahuan dan menumbuhkan sikap kritis, peka,arif dalam memahami keragaman, kesederajatan dan kemartabatan manusia dengan landasan estetika, etika dan moral didalam berkehidupan bermasyarakat
- Memberikan landasan pengetahuan dan wawasan yang luas dan keyakinan kepada para mahasiswa sebagai bekal untuk hidup bersama dalam masyarakat suatu individu dan makhluk sosial yang beradab yang mempraktekkan pengetahuan akademik sesuai dengan bidang keahliannya.
C. Pentingnya pendekatan interdisiplines dalam ISBD
Sejak semula munculnya Basic
Social Studies (Ilmu Sosial Dasar) dan Basic Humanities (Ilmu Budaya Dasar)
sekitar tahun 1970-an dilatarbelakangi oleh pemikiran untuk mendekatkan
berbagai disiplin ilmu, sehingga mendorong Mahasiswa untuk melihat permasalahan
dalam masyarakat secara interdisipliner (Numan Somantri, hlm. 268). Pentingnya
pendekatan interdisipliner ini diharapkan agar mahasiswa dapat melihat masalah
sosial dan budaya secara lebih luas dan komprehensif, sehingga mereka di
kemudian hari dapat berperan serta memecahkan masalah masalah sosial.
Pendekatan ini cocok dengan tuntutan Pasal 5 Ayat (1) Keputusan Dirjen Dikti
yang telah dikemukakan di atas. Apa yang diharapkan dalam Pasal 5 tersebut akan
sulit tercapai jika menggunakan pendekatan monodisiplin, artinya menggunakan
disiplin tertentu dalam ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu budaya (seperti sejarah,
geografi, hukum, politik, sosiologi, antropologi, seni, sastra, psikologi
sosial) secara terpisah. Tetapi perlu menggunakan pendekatan multidisiplin
secara integratif untuk memecahkan masalah sosial dan budaya, karena hakikat
masalahnya kompleks sehingga memerlukan kajian dari berbagai disiplin ilmu,
baik secara interdisipliner yang menggunakan berbagai disiplin ilmu secara
terpadu dalam mengkaji suatu masalah maupun crossdisipliner (penggunaan dua
disiplin dari sudut pandang yang berbeda) atau transdisipliner (penggunaan
berbagai disiplin ilmu dari sudut pandang yang berbeda) untuk mengkaji suatu
masalah.
Penggunaan pendekatan
multidisiplin dalam proses pembelajaran ISBD bisa menggu-nakan pendekatan
struktural, yaitu beberapa disiplin ilmu sosial atau disiplin ilmu budaya
digunakan sebagai alat untuk mengkaji masalah, tetapi sistematika salah satu
struktur disiplin tertentu masih terlihat dominan sebagai pisau analisisnya,
karena masalah yang dikaji sangat erat dan banyak kaitannya dengan disiplin
tertentu (misalnya masalah korupsi erat kaitannya dengan ilmu hukum, kemiskinan
dengan ilmu ekonomi, banjir dengan ilmu geografi, dan sebagainya) sedangkan
ilmu-ilmu lain sebagai penunjang analisisnya. Dengan demikian, seluruh bahan
itu harus disusun terlebih dulu secara sistematis menurut salah satu disiplin
utama yang menjadi pokok kajian.
Atau menggunakan
pendekatan fungsional, yaitu pembelajaran yang bertitik tolak dari masalah yang
terdapat dalarn masyarakat atau lingkungan Mahasiswa atau masalah sosial-budaya
di mana Mahasiswa terlibat secara langsung. Oleh karena itu, pendekatan
fungsional tidak berangkat dari satu disiplin ilmu, bahkan karena luasnya
pembahasan, identitas setiap disiplin ilmu hampir tidak kelihatan karena
banyaknya konsep yang berhimpitan dan bersintesis. Misalnya saja ketika
membahas pergaulan bebas di luar nikah, atau anarki pascareformasi dikaji
faktor historis, faktor politis, faktor yuridis, faktor sosiologis, faktor kultural,
serta faktor sosial-ekonomi.
Karena itu,
proses belajar mengajar diawali dengan menentukan dan merumuskan masalah,
mengumpulkan data dan informasi, mengkaji latar belakang dan penyebabnya,
mencari peraturan yang berhubungan, mengkaji kebijakan publik yang berlaku,
meneliti bagaimana sikap masyarakat terhadap masalah tersebut, dan mencari
berbagai alternatif solusi sampai akhirnya memberikan rekomendasi kepada
pengambil kebijakan publik untuk memecahkan masalah tersebut.
Bisa juga digunakan pendekatan interfield, yaitu bertitik
tolak dari ruang lingkup yang luas, misalnya saja masalah humanitis dengan tema
reformasi, pembangunan, pemilu, pilkada demokrasi, multikultur, dan lain-lain
yang dikaji dan berbagai bidang ilmu yang cukup luas seperti bahasa, IPA,
pendidikan, agama, teknologi, dan sebagainya. Dalam pendekatan interfield ini
dapat juga digunakan the area approach yang berusaha menyusun bahan kuliah
berdasarkan kebudayaan suatu daerah, misal saja kebudayaan Bali, kebudayaan
Jawa Timur, kebudayaan Betawi, dan lain lain, atas dasar daerah tersebut maka
aspek politik, sejarah, antropologi, ekonomi, pendidikan, teknologi, agama, dan
sumber daya alam ikut melengkapinya.
Menurut Nuhman sumantri dalam ISBD diperlukan beberapa
pendekatan, yaitu :
1. Pendekatan interdisipliner :“diharapkan agar
mahasiswa dapat melihat masalah sosial dan budaya secara lebih luas dan
komprehensif, sehingga mereka dikemudian hari dapat berperan serta memecahkan
masalah-masalah sosial”.
2. Pendekatan monodisiplin : “artinya menggunakan
tertentu dalam ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu budaya secara terpisah (contoh :
sejarah, hukum. geografi, politik, sosiologi, antropolgi, seni, sastra,
psykologi sosial)
3. Pendekatan multidisiplin : “artinya dalam
menyelesaikan masalah sosial , dan budaya diperlukan pendekatan multidisiplin
secara integratif, karena msalah yang kompleks memerlukan kajian dari berbagai
disiplin ilmu , baik secara interdisipliner yang menggunakan berbagai disiplin
ilmu ilmu secara terpadu dalam mengkaji suatu masalahmaupun crossdisipliner
(menggunakan 2 disiplin dari sudut pandang yang berbeda) atau transdisipliner
(penggunaan berbagai disiplin ilmu ari sudut pandang yang berbeda) untuk
mengkaji suatu masalah” Philip H. Phenik (1964: 6-8) mengemukakan bahwa
makna-makna esensial yang melekat dalam kehidupan masyarakat dan budaya manusia
meliputi, yaitu :
- Simbolik, meliputi bahasa, matematika, termasuk juga isyarat-isyarat, upacara, tanda-tanda kebesaran, dan sebangsanya. Makna simbolik ini sangat berarti dalam kehidupan bermasyarkat-berbudaya manusia.
- Empirik, mencakup ilmu kealaman, hayati, kemanusiaan. Makna empirik ini mengembangkan kemampuan teoritis, konseptual, analitis, generalisasi berdasarkan fakta-fakta, dan kenyataan yang bisa diamati.
- Estetik, meliputi berbagai seni seperti musik, karya seni, ksenian, sastra dll
- Sinoetik, berkenaan dengan perasaan, kesan, penghayatan dan kesadaran yang mendalam. Kedalam makna ini termasuk empati, simpati dan sebangsanya
- Sinoptik, berkenaan dengan pengertian yang terpadu dan mendalam seperti agama, filsafat.
Dengan demikian ISBD sebagai bagian dari general education bukanlah sebuah
disiplin ilmu, bukan pula merupakan bagian dari disiplin ilmu budaya yang
bertujuan untuk membina mahasiswa untuk menjadi ahli ilmu sosial atau ahli ilmu
budaya, akan tetapi merupakan sebuah studi yang akan menggunakan makna esensial
disiplin ilmu sosial dan budaya sebagai alat menganalisis untuk memecahkan
masalah sosial dan budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat.
D. Beberapa Alternatif Model – Model Pembelajaran ISBD
Bila pendekatan multidisiplin
atau interdisipliner digunakan dalam ISBD, maka metode ceramah sudah tidak bisa
lagi mendominasi aktivitas perkuliahan, karena itu multi metode harus
digu-nakan secara bervariasi sesuai dengan kebutuhan interaksi kelas. Ceramah,
tanya jawab, dan diskusi tentu saja masih dipandang penting terutama untuk
memberikan penjelasan dasar-dasar ilmiah serta materi esensial yang menjadi
basic concept masalah yang akan dibahas, akan tetapi model pembelajaran problem
solving, inquiry, klasifikasi nilai, science technology and society, social
action model, serta portofolio based learning sangat diperlukan untuk
mengem-bangkan empat pilar pendidikan yang dikemukakan UNESCO.
Beberapa model pembelajaran yang
disebutkan terakhir, sangat membutuhkan keterampilan Mahasiswa untuk menguasai
teknik pemecahan masalah. Masalah sendiri dapat diartikan setiap kesulitan yang
merintangi atau belum ada jawabannya secara pasti dan membutuhkan pemecahannya
apabila manusia ingin maju dan berkembang terus. Tentu pengertian itu berbeda
dengan persoalan yang bisa diartikan sebagai suatu masalah yang sudah ada
jawabannya. Dalam ISBD sebaiknya yang dipecahkan itu bukan persoalan, akan
tetapi masalah.
John Dewey dalam bukunya, How We
Think (1910), mengemukakan langkah peme-cahan masalah sebagai berikut:
(a) A feeling of perplexy;
(b) The definition of the problem;
(c) Sugesting and testing hypotheses;
(d) Development of the best solution by reasoning; and
(e) Testing of the conclution followed by reconsideration of necessary.
Kalau disederhanakan sama dengan langkah-langkah kegiatan ilmiah, yaitu mulai:
(a) Merasakan adanya masalah;
(b) Merumuskan masalah;
(c) Menetapkan hipotesis atau membuat pertanyaan pertanyaan penelitian untuk memecahkan masalah;
(d) Menetapkan sumber data yang akan dijadikan objek penelitian;
(e) Membuat instrumen untuk melakukan penelitian;
(f) Melakukan pengumpulan data;
(g) Melakukan kiasifikasi dan analisis data;
(h) Menguji hipotesis atau Pembahasan hasil penelitian;
(i) Rekomendasi.
Model pemecahan masalah dari John Dewey ini mendasari model-model pembelajaran lain yang melibatkan Mahasiswa untuk melakukan penyelidikan, seperti
Ø Model Klarifikasi Nilai dari Louis Rath (1977),
Ø Model Kegiatan Sosial dari Fred Newmann (1977),
Ø Sciences Technology and Society dari Peter Rubba (1982),
Ø Perkembangan Moral Kognitif dari Lawrence Kohlberg (1984),
Ø dan beberapa model pembelajaran yang sekarang ini banyak digunakan untuk mengaplikasikan kurikulum berbasis kompetensi seperti Model Pembelajaran Portofolio dan Model Pembelajaran Kontekstual
(a) A feeling of perplexy;
(b) The definition of the problem;
(c) Sugesting and testing hypotheses;
(d) Development of the best solution by reasoning; and
(e) Testing of the conclution followed by reconsideration of necessary.
Kalau disederhanakan sama dengan langkah-langkah kegiatan ilmiah, yaitu mulai:
(a) Merasakan adanya masalah;
(b) Merumuskan masalah;
(c) Menetapkan hipotesis atau membuat pertanyaan pertanyaan penelitian untuk memecahkan masalah;
(d) Menetapkan sumber data yang akan dijadikan objek penelitian;
(e) Membuat instrumen untuk melakukan penelitian;
(f) Melakukan pengumpulan data;
(g) Melakukan kiasifikasi dan analisis data;
(h) Menguji hipotesis atau Pembahasan hasil penelitian;
(i) Rekomendasi.
Model pemecahan masalah dari John Dewey ini mendasari model-model pembelajaran lain yang melibatkan Mahasiswa untuk melakukan penyelidikan, seperti
Ø Model Klarifikasi Nilai dari Louis Rath (1977),
Ø Model Kegiatan Sosial dari Fred Newmann (1977),
Ø Sciences Technology and Society dari Peter Rubba (1982),
Ø Perkembangan Moral Kognitif dari Lawrence Kohlberg (1984),
Ø dan beberapa model pembelajaran yang sekarang ini banyak digunakan untuk mengaplikasikan kurikulum berbasis kompetensi seperti Model Pembelajaran Portofolio dan Model Pembelajaran Kontekstual
E. Proses
Pembelajaran Berbasis Portofolio
1. Pengertian
Istilah portofolio yang paling
sering dikenal terdapat di lapangan pemerintahan, terutama ketika menunjuk pada
Menteri yang tidak membawahi suatu departemen, biasanya Menteri se-perti itu
disebut Menteri Negara atau Minister Without Portofolio, akan tetapi di dunia
pendidikan istilah itu sangat berbeda dan masih relatif baru.
Dalam konteks pendidikan,
pengertian portofolio menurut D. Budimansyah (2002, hI-2) bisa diartikan
sebagai “wujud benda fisik” yaitu bundel, yakni sekumpulan atau dokumentasi
hasil pekerjaan peserta didik, seperti bundelan hasil pre-test, tugas, post-test,
dan lain lain. Bisa juga diartikan sebagai “kegiatan sosial paedagogis”, yaitu
collection of learning experience yang terdapat dalam pikiran peserta didik
baik yang berwujud pengetahuan, sikap, maupun kete-rampilan. Sedangkan sebagai
model pembelajaran Boediono (2001) mengatakan bahwa portofolio merupakan bentuk
dan praktik belajar kewarganegaraan, yaitu inovasi pembelajaran yang dirancang
untuk membantu peserta didik memahami teori secara mendalam melalui penga-laman
belajar praktik-empirik. Praktik belajar ini dapat menjadi program pendidikan
yang mendorong kompetensi, tanggung jawab, dan partisipasi peserta didik,
belajar menilai dan mempengaruhi kebijakan umum (public policy), memberanikan
diri untuk berperan serta dalam kegiatan antar manusia, antar universitas, dan
antar anggota masyarakat. Sedangkan U. Syarifudin (2002, hIm. 31) mengatakan
bahwa portofolio adalah tampilan visual dan audio yang disusun secara
sistematis melukiskan proses berpikir yang didukung oleh seluruh data yang
relevan, sehingga secara utuh melukiskan “integrated learning experiences” atau
pengalaman belajar terpadu yang dialami oleh mahasiswa dalam kelas sebagai
suatu kesatuan. Dengan demikian, model pembelajaran berbasis portofolio
merupakan pembelajaran yang melibatkan mahasiswa secara aktif dan kooperatif
mulai dan menentukan masalah secara demokratis, mengumpulkan data, mengoleksi
data, menampilkan data, menentukan solusi permasalahan sehingga dia mampu
menilai, dan mempengaruhi kebijakan umum dan hasil temuannya.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Ilmu Sosial Budaya Dasar Edisi Ketiga