Rabu, 14 Oktober 2015

Tugas Ilmu Sosial Dasar 1



NAMA : RIZKY NUGRAHA PUTRA
NPM    : 56415191
KELAS : 1IA09

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Dasar Pemikiran 
1.      Latar Belakang Paedagogis
Inovasi pembelajaran dirasa perlu karena mahasiswa bukanlah mahluk kosong yang tidak memiliki kemampuan dan kecakapan apapun, akan tetapi sebagai objek berpotensi yang mampu mengkreasi dunia lingkungannya. Sehingga dengan memberikan posisi yang seimbang antara aktifitas dosen dan mahasiswa dalam proses pembelajaran akan mampu memberikan hasil lebih, baik tambahan ilmu pengetahuan, meningkatnya sikap positif, dan bertambahnya keterampilan pada mahasiswa.
Terdapat empat pilar pembelajaran menurut UNESCO yaitu :
  • Learning to know, pembelajaran untuk tahu
  • Learning to do, pembelajaran untuk berbuat
  • Learning to be, pembelajaran untuk membangun jati diri
  • Learning to live together, pembelajaran untuk hidup bersama secara harmonis
2. Dasar Yuridis
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Pasal 40 Ayat 1 butir e, dikemukakan bahwa: “Pendidik dan tenaga kependidikan berhak memperoleh kesempatan menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas”. Dengan pembelajaran seperti ini diharapkan semua perguruan tinggi di Indonesia mampu mempersiapkan mahasiswa sebagai anggota masyarakat yang mampu dan termotivasi untuk berpartisipasi secara aktif dalam mengaktualisasikan serta melembagakan masyarakat madani. Yang akhirnya pendidikan tinggi diharapkan mampu menghasilkan mahasiwa yang unggul secara intelektual, anggun secara moral, kompeten menguasai IPTEK, serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai peran sosial (Hamdan Mansoer, 2001, hIm. 3).

B. Visi, Misi, Tujuan
Visi ISBD
    Berkembanganya mahasiswa sebagai manusia terpelajar yang kritis, peka dan arif dalam memahami keragaman dan kesederajatan manusia baik selaku individu maupun sosial yang dilandasi oleh nilai-nilai estetika, etika dan moral dalam kehidupan bermasyarakat.

Misi ISBD
      Dalam buku Ilmu sosial Budaya  Dasar, Dituliskan bahwa misi ISBD adalah sebagai berikut : “Memberikan landasan dan wawasan yang luas serta menumbuhkan sikap kritis , peka, dan arif pada mahasiswa untuk memahami keragaman, kesederajatan, dan kemartabatan manusia dalam kehidupan bermasyarakat serta bertanggung jawab terhadap sumber daya dan lingkungannya”

Tujuan ISBD
  •       Mengantarkan manusia terutama memberikan kesadaran serta mengembangkan kemamapuan mahasiswa sebagai generasi penerus perjuangan bangasa untuk menguasai pengetahuan tentang keragaman, kesederajatan dan kemartabatan manusia selaku individu dan makhluk sosial dalam berkehidupan bermasyarakat.
  •       Memeberikan landasan pengetahuan dan menumbuhkan sikap kritis, peka,arif dalam memahami keragaman, kesederajatan dan kemartabatan manusia dengan landasan estetika, etika dan moral didalam berkehidupan bermasyarakat
  •    Memberikan landasan pengetahuan dan wawasan yang luas dan keyakinan kepada para mahasiswa sebagai bekal untuk hidup bersama dalam masyarakat suatu individu dan makhluk sosial yang beradab yang mempraktekkan pengetahuan akademik sesuai dengan bidang keahliannya.

C.  Pentingnya pendekatan interdisiplines dalam ISBD
      Sejak semula munculnya Basic Social Studies (Ilmu Sosial Dasar) dan Basic Humanities (Ilmu Budaya Dasar) sekitar tahun 1970-an dilatarbelakangi oleh pemikiran untuk mendekatkan berbagai disiplin ilmu, sehingga mendorong Mahasiswa untuk melihat permasalahan dalam masyarakat secara interdisipliner (Numan Somantri, hlm. 268). Pentingnya pendekatan interdisipliner ini diharapkan agar mahasiswa dapat melihat masalah sosial dan budaya secara lebih luas dan komprehensif, sehingga mereka di kemudian hari dapat berperan serta memecahkan masalah masalah sosial. Pendekatan ini cocok dengan tuntutan Pasal 5 Ayat (1) Keputusan Dirjen Dikti yang telah dikemukakan di atas. Apa yang diharapkan dalam Pasal 5 tersebut akan sulit tercapai jika menggunakan pendekatan monodisiplin, artinya menggunakan disiplin tertentu dalam ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu budaya (seperti sejarah, geografi, hukum, politik, sosiologi, antropologi, seni, sastra, psikologi sosial) secara terpisah. Tetapi perlu menggunakan pendekatan multidisiplin secara integratif untuk memecahkan masalah sosial dan budaya, karena hakikat masalahnya kompleks sehingga memerlukan kajian dari berbagai disiplin ilmu, baik secara interdisipliner yang menggunakan berbagai disiplin ilmu secara terpadu dalam mengkaji suatu masalah maupun crossdisipliner (penggunaan dua disiplin dari sudut pandang yang berbeda) atau transdisipliner (penggunaan berbagai disiplin ilmu dari sudut pandang yang berbeda) untuk mengkaji suatu masalah.
       Penggunaan pendekatan multidisiplin dalam proses pembelajaran ISBD bisa menggu-nakan pendekatan struktural, yaitu beberapa disiplin ilmu sosial atau disiplin ilmu budaya digunakan sebagai alat untuk mengkaji masalah, tetapi sistematika salah satu struktur disiplin tertentu masih terlihat dominan sebagai pisau analisisnya, karena masalah yang dikaji sangat erat dan banyak kaitannya dengan disiplin tertentu (misalnya masalah korupsi erat kaitannya dengan ilmu hukum, kemiskinan dengan ilmu ekonomi, banjir dengan ilmu geografi, dan sebagainya) sedangkan ilmu-ilmu lain sebagai penunjang analisisnya. Dengan demikian, seluruh bahan itu harus disusun terlebih dulu secara sistematis menurut salah satu disiplin utama yang menjadi pokok kajian.
       Atau menggunakan pendekatan fungsional, yaitu pembelajaran yang bertitik tolak dari masalah yang terdapat dalarn masyarakat atau lingkungan Mahasiswa atau masalah sosial-budaya di mana Mahasiswa terlibat secara langsung. Oleh karena itu, pendekatan fungsional tidak berangkat dari satu disiplin ilmu, bahkan karena luasnya pembahasan, identitas setiap disiplin ilmu hampir tidak kelihatan karena banyaknya konsep yang berhimpitan dan bersintesis. Misalnya saja ketika membahas pergaulan bebas di luar nikah, atau anarki pascareformasi dikaji faktor historis, faktor politis, faktor yuridis, faktor sosiologis, faktor kultural, serta faktor sosial-ekonomi.

      Karena itu, proses belajar mengajar diawali dengan menentukan dan merumuskan masalah, mengumpulkan data dan informasi, mengkaji latar belakang dan penyebabnya, mencari peraturan yang berhubungan, mengkaji kebijakan publik yang berlaku, meneliti bagaimana sikap masyarakat terhadap masalah tersebut, dan mencari berbagai alternatif solusi sampai akhirnya memberikan rekomendasi kepada pengambil kebijakan publik untuk memecahkan masalah tersebut.
Bisa juga digunakan pendekatan interfield, yaitu bertitik tolak dari ruang lingkup yang luas, misalnya saja masalah humanitis dengan tema reformasi, pembangunan, pemilu, pilkada demokrasi, multikultur, dan lain-lain yang dikaji dan berbagai bidang ilmu yang cukup luas seperti bahasa, IPA, pendidikan, agama, teknologi, dan sebagainya. Dalam pendekatan interfield ini dapat juga digunakan the area approach yang berusaha menyusun bahan kuliah berdasarkan kebudayaan suatu daerah, misal saja kebudayaan Bali, kebudayaan Jawa Timur, kebudayaan Betawi, dan lain lain, atas dasar daerah tersebut maka aspek politik, sejarah, antropologi, ekonomi, pendidikan, teknologi, agama, dan sumber daya alam ikut melengkapinya.

Menurut Nuhman sumantri dalam ISBD diperlukan beberapa pendekatan, yaitu :
1. Pendekatan interdisipliner :“diharapkan agar mahasiswa dapat melihat masalah sosial dan budaya secara lebih luas dan komprehensif, sehingga mereka dikemudian hari dapat berperan serta memecahkan masalah-masalah sosial”.
2. Pendekatan monodisiplin : “artinya menggunakan tertentu dalam ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu budaya secara terpisah (contoh : sejarah, hukum. geografi, politik, sosiologi, antropolgi, seni, sastra, psykologi sosial)
3. Pendekatan multidisiplin : “artinya dalam menyelesaikan masalah sosial , dan budaya diperlukan pendekatan multidisiplin secara integratif, karena msalah yang kompleks memerlukan kajian dari berbagai disiplin ilmu , baik secara interdisipliner yang menggunakan berbagai disiplin ilmu ilmu secara terpadu dalam mengkaji suatu masalahmaupun crossdisipliner (menggunakan 2 disiplin dari sudut pandang yang berbeda) atau transdisipliner (penggunaan berbagai disiplin ilmu ari sudut pandang yang berbeda) untuk mengkaji suatu masalah” Philip H. Phenik (1964: 6-8) mengemukakan bahwa makna-makna esensial yang melekat dalam kehidupan masyarakat dan budaya manusia meliputi, yaitu :
  • Simbolik,  meliputi bahasa, matematika, termasuk juga isyarat-isyarat, upacara, tanda-tanda kebesaran, dan sebangsanya. Makna simbolik ini sangat berarti dalam kehidupan bermasyarkat-berbudaya manusia.
  • Empirik, mencakup ilmu kealaman, hayati, kemanusiaan. Makna empirik ini mengembangkan kemampuan teoritis, konseptual, analitis, generalisasi berdasarkan fakta-fakta, dan kenyataan yang bisa diamati.
  •  Estetik, meliputi berbagai seni seperti musik, karya seni, ksenian, sastra dll
  • Sinoetik, berkenaan dengan perasaan, kesan, penghayatan dan kesadaran yang mendalam. Kedalam makna ini termasuk empati, simpati dan sebangsanya
  • Sinoptik, berkenaan dengan pengertian yang terpadu dan mendalam seperti agama, filsafat.
Dengan demikian ISBD sebagai bagian dari general education bukanlah sebuah disiplin ilmu, bukan pula merupakan bagian dari disiplin ilmu budaya yang bertujuan untuk membina mahasiswa untuk menjadi ahli ilmu sosial atau ahli ilmu budaya, akan tetapi merupakan sebuah studi yang akan menggunakan makna esensial disiplin ilmu sosial dan budaya sebagai alat menganalisis untuk memecahkan masalah sosial dan budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat.

D. Beberapa Alternatif Model – Model Pembelajaran ISBD

     Bila pendekatan multidisiplin atau interdisipliner digunakan dalam ISBD, maka metode ceramah sudah tidak bisa lagi mendominasi aktivitas perkuliahan, karena itu multi metode harus digu-nakan secara bervariasi sesuai dengan kebutuhan interaksi kelas. Ceramah, tanya jawab, dan diskusi tentu saja masih dipandang penting terutama untuk memberikan penjelasan dasar-dasar ilmiah serta materi esensial yang menjadi basic concept masalah yang akan dibahas, akan tetapi model pembelajaran problem solving, inquiry, klasifikasi nilai, science technology and society, social action model, serta portofolio based learning sangat diperlukan untuk mengem-bangkan empat pilar pendidikan yang dikemukakan UNESCO.

      Beberapa model pembelajaran yang disebutkan terakhir, sangat membutuhkan keterampilan Mahasiswa untuk menguasai teknik pemecahan masalah. Masalah sendiri dapat diartikan setiap kesulitan yang merintangi atau belum ada jawabannya secara pasti dan membutuhkan pemecahannya apabila manusia ingin maju dan berkembang terus. Tentu pengertian itu berbeda dengan persoalan yang bisa diartikan sebagai suatu masalah yang sudah ada jawabannya. Dalam ISBD sebaiknya yang dipecahkan itu bukan persoalan, akan tetapi masalah.
John Dewey dalam bukunya, How We Think (1910), mengemukakan langkah peme-cahan masalah sebagai berikut:
(a) A feeling of perplexy;
(b) The definition of the problem;
(c) Sugesting and testing hypotheses;
(d) Development of the best solution by reasoning; and
(e) Testing of the conclution followed by reconsideration of necessary.
Kalau disederhanakan sama dengan langkah-langkah kegiatan ilmiah, yaitu mulai:
(a) Merasakan adanya masalah;
(b) Merumuskan masalah;
(c) Menetapkan hipotesis atau membuat pertanyaan pertanyaan penelitian untuk memecahkan masalah;
(d) Menetapkan sumber data yang akan dijadikan objek penelitian;
(e) Membuat instrumen untuk melakukan penelitian;
(f) Melakukan pengumpulan data;
(g) Melakukan kiasifikasi dan analisis data;
(h) Menguji hipotesis atau Pembahasan hasil penelitian;
(i) Rekomendasi.
Model pemecahan masalah dari John Dewey ini mendasari model-model pembelajaran lain yang melibatkan Mahasiswa untuk melakukan penyelidikan, seperti
Ø Model Klarifikasi Nilai dari Louis Rath (1977),
Ø Model Kegiatan Sosial dari Fred Newmann (1977),
Ø Sciences Technology and Society dari Peter Rubba (1982),
Ø Perkembangan Moral Kognitif dari Lawrence Kohlberg (1984),
Ø dan beberapa model pembelajaran yang sekarang ini banyak digunakan untuk mengaplikasikan kurikulum berbasis kompetensi seperti Model Pembelajaran Portofolio dan Model Pembelajaran Kontekstual

E. Proses Pembelajaran Berbasis Portofolio
1. Pengertian
Istilah portofolio yang paling sering dikenal terdapat di lapangan pemerintahan, terutama ketika menunjuk pada Menteri yang tidak membawahi suatu departemen, biasanya Menteri se-perti itu disebut Menteri Negara atau Minister Without Portofolio, akan tetapi di dunia pendidikan istilah itu sangat berbeda dan masih relatif baru.
Dalam konteks pendidikan, pengertian portofolio menurut D. Budimansyah (2002, hI-2) bisa diartikan sebagai “wujud benda fisik” yaitu bundel, yakni sekumpulan atau dokumentasi hasil pekerjaan peserta didik, seperti bundelan hasil pre-test, tugas, post-test, dan lain lain. Bisa juga diartikan sebagai “kegiatan sosial paedagogis”, yaitu collection of learning experience yang terdapat dalam pikiran peserta didik baik yang berwujud pengetahuan, sikap, maupun kete-rampilan. Sedangkan sebagai model pembelajaran Boediono (2001) mengatakan bahwa portofolio merupakan bentuk dan praktik belajar kewarganegaraan, yaitu inovasi pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami teori secara mendalam melalui penga-laman belajar praktik-empirik. Praktik belajar ini dapat menjadi program pendidikan yang mendorong kompetensi, tanggung jawab, dan partisipasi peserta didik, belajar menilai dan mempengaruhi kebijakan umum (public policy), memberanikan diri untuk berperan serta dalam kegiatan antar manusia, antar universitas, dan antar anggota masyarakat. Sedangkan U. Syarifudin (2002, hIm. 31) mengatakan bahwa portofolio adalah tampilan visual dan audio yang disusun secara sistematis melukiskan proses berpikir yang didukung oleh seluruh data yang relevan, sehingga secara utuh melukiskan “integrated learning experiences” atau pengalaman belajar terpadu yang dialami oleh mahasiswa dalam kelas sebagai suatu kesatuan. Dengan demikian, model pembelajaran berbasis portofolio merupakan pembelajaran yang melibatkan mahasiswa secara aktif dan kooperatif mulai dan menentukan masalah secara demokratis, mengumpulkan data, mengoleksi data, menampilkan data, menentukan solusi permasalahan sehingga dia mampu menilai, dan mempengaruhi kebijakan umum dan hasil temuannya.

DAFTAR PUSTAKA
Buku Ilmu Sosial Budaya Dasar Edisi Ketiga