MIMPIKU
Perkenalkan namaku Rizky Nugraha Putra. Panggilan ku sebenarnya ada
banyak tetapi teman – temanku lebih sering memanggilku dengan panggilan Iky
atau Nugraha. Ya memang terdengar aneh. Tapi aku tak mempedulikannya. Bagiku
ialah sebuah nama takkan tampak elok,
kecuali dengan kepribadiannya yang elok pula. Menurut hasil riset, dengan
menanyai beberapa temanku, mereka bilang aku ini pendiam, terkadang pecicilan dan
kadang terlihat konyol. Tapi aku suka menghabiskan waktuku dengan mendengarkan
musik, berselancar di Internet dan menggambar.
Semua ini bermula di saat aku sedang asyik
berselancar di internet, aku melihat sebuah rangkaian kata – kata yang saat ku
baca memeiliki makna yang sangat menginspirasiku ku. Ya. Rangkaian kata – kata
itu adalah dari sang Motivator “ Mario
Teguh “, beliau berkata:
Cita – Citaku Tinggi
Aku ingin menjadi yang terbaik dalam melakukan apa yang kulakukan.
Aku tak harus mengalahkan siapa pun, karena yang harus kukalahkan hari ini dan setiap hari adalah kualitas hidupku yang kemarin.
Tak peduli apa komentar orang lain.
Aku menjaga cita – citaku tinggi.
Ini hidupku, ini pilihanku.
#Mario Teguh
Aku ingin menjadi yang terbaik dalam melakukan apa yang kulakukan.
Aku tak harus mengalahkan siapa pun, karena yang harus kukalahkan hari ini dan setiap hari adalah kualitas hidupku yang kemarin.
Tak peduli apa komentar orang lain.
Aku menjaga cita – citaku tinggi.
Ini hidupku, ini pilihanku.
#Mario Teguh
Dari Kata – kata tersebut lah yang
menginspirasiku sampai sekarang ini, aku terus bersemangat setiap kali ku
membaca kata – kata tersebut.
Seolah –
olah aku memiliki ambisi yang besar dan memiliki jiwa yang kuat untuk menggapai
mimpi. Apa? Mimpi? Ya tentu saja, pasti
semua orang memiliki mimpi, dari mimpi yang belum tercapai maupun mimpi yang
sudah tercapai. Namun, pernahkah kalian mengalami kegagalan dalam menggapai
mimpi kalian? Pastinya pernah bukan? Nah begitupun denganku, tidak hanya satu
dua kali saja aku mengalami kegagalan dalam menggapai mimpiku, bahkan berkali –
kali dan terkadang dalam benakku aku merasa lelah dalam mengejar mimpiku.
Saat
pertama kali ku mendengar cita – cita adalah ketika aku masih TK, yaitu ketika
Bu Guru bertanya kepada muridnya satu persatu “ Apa cita – cita kalian kalau
sudah besar anak – anak ?, dengan seketika waktu itu aku langsung tegas
menjawab “Aku ingin menjadi polisi Bu Guru”. Entah mengapa dulu aku ingin
sekali menjadi polisi karena setiap saat aku melihat polisi itu sepertinya
menjadi polisi itu keren, gagah, bisa membrantas para pelaku penjahat dan bisa
mengatur rambu lalu lintas. Dan cita – cita ku ingin menjadi polisi pun
berlanjut hingga ke jenjang SD. Waktu terasa begitu cepat tak terasa aku sudah
berada di Jenjang yang lebih tinggi yaitu SMP. Ketika SMP aku lebih suka menggambar
karena aku sangat suka seni hingga suatu hari aku berkeinginan untuk menjadi
seniman atau arsitektur. Dan ketika waktu kelulusan SMP aku berkeinginan sekali
untuk melanjutkan ke jenjang SMK dengan jurusan animasi, akan tetapi kenyataan
tak seperti apa yang kita harapkan, banyak pertimbangan dari orang tua dan
alasan – alasan tertentu yang mengakibatkan aku untuk tidak melanjutkan sekolah
ku ke jenjang SMK Jurusan Animasi. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk
melanjutkan study ku ke jenjang selanjutnya yaitu SMA.
Hari
demi hari ku lewati saat ketika aku berada di SMA ,ketika aku SMA aku sangat
suka dengan komputer. Ya, waktu SMA memang hari – hari ku berada di depan
komputer, sudah seperti teman sendiri komputer itu bagiku karena tugas – tugas
yang memang harus menggunakan komputer ketika waktu aku SMA. Hingga saat
kenaikan kelas 2 SMA terdapat pemilihan
jurusan antara IPA dan IPS. Tanpa berfikir panjang aku memutuskan untuk
mengambil jurusan IPA berhubung nilai rapot ku cukup bagus dalam bidang IPA
ketika aku masih duduk di kelas 1 SMA dan aku sudah ada niat dan mimpi untuk
mengambil Teknik Informatika Ketika aku melanjutkan ke Jenjang Prguruan Tinggi.
Selama 2 tahun sampai kelas 3 SMA aku lewati hari – hari ku menjadi anak IPA,
hingga tak terasa Ujian Nasional ( UN ) pun sudah di depan mata. Aku mulai
bersemangat untuk menghadapinya, pemikiranku untuk lanjut ke perguruan tinggi
pun semakin bulat. Setelah pengumuman tiba aku pun cukup senang karena nilai UN
ku tidaklah buruk dan sangat memuaskan
diatas rata – rata Nilai Standar kelulusan yang diberikan oleh pemerintah.
Tapi entah
kenapa kegalauan tentang mimpiku pun belum berakhir, ternyata aku tidak lolos
dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri (SNMPTN), ya, memang ketika
aku mendaftar SNMPTN aku memilih PTN yang bisa dibilang peminatnya cukup banyak
dan termasuk untuk lolos itu kemungkinannya sangat kecil, yaitu UNPAD dengan
jurusan Teknik Informatika ,Teknik Geologi sedangkan di IPB aku mengambil
jurusan Ilmu Komunikasi. Aku berusaha untuk tetap semangat untuk dapat masuk ke
Perguruan Tinggi Negri (PTN) pada waktu itu dengan mengikuti berbagai ujian
seperti SBMPTN dengan mengambil PTN ITB dengan jurusan Sekolah Teknik Elektro
dan Informatika (SETI) dan Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) dengan
jurusan Teknik Informatika dan Management, SIMAK UI, Sekolah Tinggi
Transportasi Darat (STTD), Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN) dan juga
Politeknik Negri Bandung (POLBAN), namun keberuntungan tidak berpihak kepadaku,
aku tidak sama sekali lolos dalam berbagai Ujian yang aku ikuti waktu itu. Aku
pun mulai gelisah dan frustasi pada waktu itu karena aku belum sama sekali
masuk ke Perguruan Tinggi Negeri satu pun.
Waktu
pun mulai berlalu, aku pun melupakan
semua itu. Hingga akhirnya aku mencoba mendaftar untuk masuk di salah satu
Perguruan Tinggi yang berada di daerah depok, Jawa Barat. Dan alhamdulillah aku
di terima di Perguruan Tinggi tersebut di jurusan Teknik Informatika.
Sebelumnya aku tidak pernah pernah berfikir bahwa aku masuk ke Perguruan tinggi
tersebut dan walaupun Perguruan Tinggi tersebut tidak Negri tetapi Jurusan yang
diterima pun yang aku minati. Tapi inilah hidup, terkadang apa yang kita
pikirkan tidaklah sama dengan kenyataannya. Belum tentu apa yang kita pilih
adalah yang terbaik untuk kita.
Inilah
skenario kehidupan ku. Tinggal memilih ingin menjadi penonton atau pemeran
utamanya. Belajarlah dari mereka jangan takut bermimpi. Lebih baik gagal tapi
mempunyai mimpi dari pada gagal tapi tidak pernah mempunyai mimpi sama sekali. Mulai
saat ini aku akan belajar, fokus dan melakukan semuanya dengan bersemangat dan
dengan baik untuk apa yang
aku pilih sekarang ini. Mimpiku belum berakhir, aku masih mempunyai mimpi bisa
melanjutkan pendidikan keluar negeri. Aku akan mengejar mimpi-mimpiku yang
semu, aku tidak akan membiarkan hanya sekedar isapan jempol belaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar